Petilasan Nyi Endang Geullis

Petilasan Nyi Endang Geulis merupakan salah satu dari petilasan yang ada di Desa Krandon. Jarang tersentuh dan keberadaan nya sedikit tersembunyi dibandingkan dua petilasan lainnya yaitu petilasan Cimandung dan Petilasan Balong Biru. Akses masuk menuju petilasan Nyi Endang Geulis memang sempit hanya bisa untuk kendaraan Bermotor saja sendangkan kalo kendaraan Bermobil bisa dititipkan atau parkir dipinggir jalan raya atau masuk dari gang lain yang tembus ke arah petilasan Nyi Endang Geulis tersebut, Keberadaan gang Petilasan tersebut pun tidak cukup banyak yang tau keberadaan nya, Saya sendiri masih belum tau keberadaan Petilasan Nyi Endang Geulis. Juru kunci petilasan Nyi Endang Geulis pernah mengungkapkan petilasan ini ibarat rumah tinggal, sebab dikawasan Talun terdapat Cuma beberapa Petilasan yang berkaitan satu sama lain.
Petilasan Nyi Endang Geulis memang tidak seramai petilasan Cimandung, Namun menurut juru kunci petilasan Nyi Endang Geulis, petilasan ini diibaratkan seperti seorang istri yang ada pada diri Nyi Endang Geulis. Nyi Endang Geulis sendiri merupakan putri dari Ki Gedheng Danu Warsih dari pertapaan Gunung Mara Api dan menikah dengan Pangeran Walasungsang.
Masyarakat Kerandon punya adat tersendiri yaitu Sedekah Bumi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Diadakan nya Sedekah Bumi dilaksanakan ditempat Nyi Endang Geulis biasanya para masyarakat membuat tumpeng saja dan tidak semeriah desa-desa lain. Masyrakat Kerandon desa yang terpencil di daerah Talun jadi acara Sedekah Bumi dilaksanakan hanya dengan Warga sekitarnya saja dan biasanya untuk mewujudkan rasa sukur kepada Allah apa yang telah ia inginkan dan dapatkan. Acara Sedekah Bumi ini acara turun menurun dari zaman dahulu dan sampai sekarang masih melakukan acara adat Sedekah Bumi tersebut.
Biasanya Acara Sedekah bumi ini cukup sederhana yaitu Bersyukur apa yang udah di dapatkan contohnya Buah-Buahan yang udah panen lalu dibagikan kewarga-warga terdekat yang ada didesa Kerandon tersebut. Tetapi di sisi lain ada yang bilang acara Sedekah Bumi ini dijadikan tolak ukur sejauh mana Masyarakat mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam. Ritual Sedekah Bumi ini memiliki usia yang udah bertahun-tahun lamanya, Ritual Sedekah Bumi ini rasa Bersyukur apa yang telah Allah kasih kepada Masyarakat desa Kerandon. Warga desa Kerandon Nyi Endang Geulis melakukan acara Ritual Sedekah Bumi ini dengan serempak hampir semuanya membuat tumpeng lalu dikumpulkan di Petilasan Nyi Endang Geulis dan biasanya lauk pauk dari tumpeng tersebut dibagikan dan dimakan oleh warga Kerandon tersebut.
Acara Sedekah Bumi dikawasan Nyi Endang Geulis mengelilingi desa Kerandon dan yang dibawa dalam acara tersebut biasanya Benda-benda yang udah lama menjadi sejarah atau biasa dipake oleh Nyi Endang Geulis maupun Pangeran Walasungsang, Contohnya : Tombak, Keris, Payung.
Sebenernya Acara Sedekah Bumi tersebut banyak yang tidak percaya atau Mengharamkan adanya Ritual tersebut karena memang sebetulnya merayakan ritual-ritual hukumnya haram, Menurut saya seharusnya Warga Kerandon tidak melakukan ritual-ritual tersebut karena dengan Bersyukur apa yang telah Allah berikan kepada kita semua juga udah semestinya kita bahagia, Bersyukur, Senang. Ya tapi Acara Ritual Sedekah Bumi menurut warga Kerandon mengundang keberuntungan atau rasa syukur kepada Allah bukankah sebaiknya kita bersyukur bukan dengan cara mengadakan Ritual atau yang lainnya, Cukup berdo’a kepada Allah apa yang di inginkan Insya Allah akan terkabulkan.